Tutug Oncom Kuliner Khas Tasikmalaya yang Naik Kelas

Artikel terkait : Tutug Oncom Kuliner Khas Tasikmalaya yang Naik Kelas

Tutug Oncom Kuliner Khas Tasikmalaya yang Naik Kelas - Tutug Oncom atau terkenal dengan TO seolah-olah makanan yang terlahir kembali. Bila zaman dulu, TO dianggap makanan kampungan atau bahkan makanan “sampah”, kini sebaliknya, TO digemari semua kalangan baik usia muda atau tua. TO pun mulai naik kelas. Bahkan Hotel Santika Tasikmalaya menjadikan TO ini hidangan khas daerah yang disajikan kepada para tamu-tamunya.

TO merupakan nasi yang dicampur oncom yang telah dihaluskan dilengkapi bumbu-bumbu tertentu. Sepintas, hidangan TO mirip nasi tercampur butiran pasir. Warnanya putih kehitam-hitaman. Di Kota Tasikmalaya warung TO sangat mudah dijumpai. Antara lain di bilangan Jalan Badan Keamanan Rakyat (BKR), warung-warung TO dengan kapasitas tempat duduk massal. Desain warungpun mirip jaman dulu, beratap ijuk, dinding terbuat dari bilik bambu dilengkapi meja makan lesehan. Satu meja untuk 4-6 orang.

Salah satunya Warung TO Mr. Rahmat. Warung yang sudah beroperasi dua tahun ini sehari melayani ratusan pengunjung yang sengat beragam, mulai pejalan kaki hingga bermobil mentereng.

Owner Warung TO RM. Rahmat, Agus Priatna mengaku, omset penjualan di warungnya sehari antara Rp3 juta- Rp4 juta. Ia buka mulai pukul 8 pagi hingga pukul 9 malam dengan 10 pekerja.

Apa yang membuat TO kini digemari? Jawaban Agus –pengusaha yang juga mantan anggota scurity sebuah bank swasta ternama ini, ada kerinduan masayrakat terhadap makanan tradisional.

Enak Dimakan Bareng Mendoan ngiler
Sejak awal beridiri kisah Agus, warung TO nya tidak pernah sepi pembeli, meski di daerah sekitar sudah banyak warung serupa dengan tawaran variasi makanan. Tentu kreatifitas untuk mempertahankan pelanggan selalu diperlukan. Misalnya, memperkaya menu minuman segar juga lauk-pauk yang cocok dihidangkan dengan TO.

TO tetaplah TO tidak bisa disulap menjadi makanan lain. Ternyata paling diminati pembeli, TO dihidangkan bersama mendoan atau bala-bala plus sambal. Lauk lain sekedar melengkapi seperti goreng dadar telor, gorang ayam apabaila ada permintaan pengunjung.

Masih soal cara makan TO, diceritakan Fuji Astuti karyawan warung Nasi TO Lekker di Bilangan Jalan Otto Iskandar Dinata Kota Tasikmalaya. Fuji menjelasakan, TO biasanya dimakan dengan sambal hijau, sambal terasi dan lalap terung hijau, leunca juga kemangi. Sedangkan lauk bisa dilengkapi dengan goreng tempe, tahu, ikan asin jambal plus goreng daging ayam atau dadar telor ayam.

Fuji menyebutkan, di warung yang didirikan sejak tahun 1984 itu, tak jarang pengunjungnya para inohong (tokoh) Tasikmalaya, mulai wali kota dan jajarannya atau bahkan keluarga tokoh nasional.

Sejarah TO
TO menurut cerita rakyat masyarakat Tasikmalaya mulai hadir sejak penjajahan Jepang. Saat itu karena masyarakat mengalami kekurangan pangan dan lauk pauk, masyarakat yang kreatif mencoba memanfaatkan ampas pembuatan tahu hingga menjadi oncom bahan TO.

TO saat itu masih dianggap makanan rakyat yang tidak bernilai. Ia identik dengan makanan murahan yang hanya dikonsumsi rakyat kecil. Namun kini TO sudah naik kelas. Ia ada di restoran kaki lima hingga restoran bintang lima dengan harga fariatif.

Di Kota Tasikmalaya, penjual TO mulai marak sejak tahun 2008. Sebelumnya hanya beberapa pedagang yang membuat TO. Seingat penulis, TO di Tasikmalaya telah lama berdiri, selain TO Lekker tadi, yakni TO Benhil di Dadaha, tepatnya depan kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tasikmalaya.

Nutrisi TO
Nutrisi TO bisa dilihat dari asal muasal oncom. Dari bahan TO yakni nasi dan oncom, nasi tentu menjadi sumber karbohidrat layaknya makanan lain yang terbuat dari beras. Sedangkan dari oncom menurut Wikipedia dan beberapa sumber, ternyata mengandung gizi yang relatif baik. Kandungan karbohidrat dan protein oncom cukup tinggi terutama oncom yang terbuat dari bungkil kacang tanah.

Sementara populasi kapang pada oncom diyakni dapat menekan produksi aflatoksin dari aspergillus flavus yang telah mencemari substrat (bungkil). Degradasi yang dilakukan oleh kapang menyebabkan beberapa oligosakarida sederhana seperti sukrosa, rafinosa dan stakhiosa menurun pesat kandungannya akibat aktivitas enzim α-galaktosidase yang dihasilkan kapang. Kondisi ini sangat baik bagi pencernaan karena rafinosa dan stakhiosa bertanggung jawab atas gejala flatulensi yang dapat muncul bila orang mengonsumsi biji kedelai atau kacang tanah.

So, yang mau ke Tasikmalaya, jangan lupa, mampir ke warung-warung TO. Dijamin pingin balik lagi.
via

Artikel MasBhotol Lainnya :

0 comments:

Post a Comment

Copyright © 2015 MasBhotol | Design by Bamz